Minggu, 09 Agustus 2015

Melambung Bersama Lumbung

Contoh Bangunan Lumbung Padi
“Di lumbung kita menabung, dating paceklik kita tak bingung” –Iwan Fals, Desa-

Mendengarkan petikan lirik lagu diatas, kita langsung teringat terhadap konsep ketahanan pangan yang sudah lama kita lupakan atau sama sekali banyak yang tidak kita gunakan di era modern ini. Sehingga timbul pertanyaan penulis saat datang ke daerah suku Baduy yang masih menerapkan konsep lumbung, kenapa di daerah Baduy yang menggunakan sistem pertanian padi huma dengan panen satu tahun sekali, tidak pernah mendengar krisis kelaparan pangan, bahkan banyak acara perayaan tradisional yang bersifat makan-makan, sementara di daerah kami (secara modern) kami masih banyak yang menemukan kelaparan, sementara konsep pertanian kami menggunakan sistem tanam yang mampu panen dalam satu tahun dua sampai tiga kali panen...?

Belajar pada masa sunda kuno, kita mungkin tak pernah berfikir bahwa konsep ketahanan pangan yang dianggap kuno tersebut adalah jawaban dari pertanyaan di atas dan jawaban terhadap ketahanan pangan masa kini, konsep lumbung ini sepertinya masih sangat relevan untuk diimplemantasikan pada kehidupan kita masa kini, sistem penyimpanan stok pangan di lumbung dapat dikatakan sebagai strategi ketahanan pangan. Setiap orang pemilik sawah di masing-masing kampung atau dusun harus menyisihkan hasil panen untuk disimpan di lumbung. Lumbung yang bersifat komunal yang dapat digunakan pada masa-masa paceklik, betapa kokoh sistem dan strategi pertahanan pangan masa itu.

Dengan demikian dalam urusan stok pangan, orang-orang sunda masa lalu tidak pernah tergantung pada dunia luar. Selain lumbung, konsep ketahanan pangan orang sunda lampau juga mengenal istilah leuit, dimana leuit adalah konsep penyimpanan hasil panen yang bersifat keluarga dikendalikan sepenuhnya oleh kepala keluarga/suami, setelah leuit penyimpanan pangan disimpan di goah yang sepenuhnya dikendalikan oleh istri, dan untuk digunakan sehari-hari orang sunda mengenal istilah paderingan. Jadi dimana stok pangan di paderingan, goah dan , leuit sudah habis, kita bisa mengambilnya di lumbung.

Semoga kita tak pernah mendengar lagi istilah mati kelaparan dilumbung padi, karena kebanyakan secara konsep ketahanan pangan kita acuh tak acuh tidak memperdulikannya, Saatnya kita melambung bersama lumbung untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Dari segi sosal lumbung juga mampu merekatkan hubungan karena secara komunal kita bisa senantiasa banyak berinteraksi, sementara leuit, goah dan paderingan mengajarkan kita agar pentingnya berdaya hidup hemat. []Mudofr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar